Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Sajak Cinta

Detik detik yang ku nanti.. Rindu yang ku simpan dengan baik.. Hati yang tak tau bagaimana kabarnya.. Dan perasaan yang saat ini sedang kau genggam.. Penting atau tidak, bagiku itu tetap penting.. Ada pengharapan di balik kata-kata tak bermakna.. Penantian yang pada akhirnya akan dimakan waktu.. Tak terjawab hingga pagi kembali hadir.. Kau lihat.. Tidak, kau bahkan tak tau apa yang sudah kau curi.. Ah salah.. Mungkin akulah yang meletakkannya pada sakumu.. Yang pada akhirnya membuatku sesak sendiri.. Lalu harus bagaimana? Aku bahkan tak tau bagaimana cara menghentikannya.. Ingin ku bunuh tapi aku tak memiliki belati.. Ingin ku jaga namun untuk apa? Karena pada akhirnya kau hanya ingin pergi.. Gadis yang sedang jatuh cinta mungkin terlihat bodoh.. Atau mungkin hanya aku? Bodoh karena tak tau harus berbuat apa.. Padahal jawaban sudah jelas dan pasti di depan mata..

Hai, Hati Tak Bertuan..

Hai, hati tak bertuan.. Apa kau terluka lagi? Aku melihat ada tetes air mata yang tertahan.. Apa kau perlu pembalut luka? Hai, hati tak bertuan.. Kau terlalu berharap lagi.. Berharap lalu kecewa.. Lantas apa yang ingin kau lakukan? Hai, hati tak bertuan.. Apa kau tak bisa menjaga dirimu lebih baik? Menjaga dirimu dari angan-angan tinggi.. Menjaga dirimu dari rasa sakit yang menyerang.. Hai, hati tak bertuan.. Kau tak pernah salah.. Mungkin aku yang terlalu memaksa.. Memaksa untuk mulai berangan.. Hai, hati tak bertuan.. Dengarkan aku, aku mohon dengarkanlah... Aku lelah berharap dan aku lelah menangis.. Apa kau bisa mengosongkan dirimu untuk sementara waktu? Hai, hati tak bertuan.. Doa yang kita ucapkan untuknya.. Rasa yang kita semaikan dulu kini hanya tinggal kenangan.. Bersama sang waktu dia akan pergi ke hati yang lain.. Hai, hati tak bertuan.. Maafkan aku karena menambah luka.. Maafkan aku karena aku terlalu ceroboh.. Maafkan aku karena tela...

Sapa, Lupakan Saja..

Lupakan saja... Hati yang pernah singgah, telah berlalu.. Tak usah rindu.. Karena tak akan ada balasan rindu dari sang pujaan.. Kau bertanya, apa aku harus menjawab? Detik demi detik ku lalui.. Hingga hati mati rasa.. Di tinggal rasa penasaran.. Tidak ada yang memaksaku jatuh cinta.. Juga tidak ada yang memberikan harapan.. Hanya waktu dan cinta yang bermain di dalamnya.. Di antara ruang hampa.. Kau datang, apa aku harus menyapa? Hatiku berkata ya, lalu tidak.. Lalu ya, lalu tidak lagi.. Pada akhirnya aku hanya menutup mata.. Hai sang pujaan hati.. Aku selalu menyapamu dengan bait puisiku.. Menyapa lewat untaian kata tak beraturan.. Berharap ada balasan hangat darimu.. Tapi lupakan saja... Tak ada gunanya menyapa.. Sapa hanya sekedar sapa.. Setelah itu, kau pasti akan pergi lagi...

Lihat..

Lihat.. Kau bisa melihatnya dimana pun kau berada.. Bintang selalu ada si sana.. Selalu berainar tak peduli apakah dia sendiri atau memiliki teman.. Aku iri pada bintang.. Dia bisa begitu kuat dan bercahaya meskipun di tengah kegelapan dan tanpa kawan.. Begitu indah.. Lihat.. Apa kau benar-benar bisa melihat? Kebahagiaanmu tak selalu membahagiakan.. bagi orang-orang sepertiku.. Tapi tak ada yang melarang untuk bahagia.. Hanya saja tak semua seberuntung dirimu.. Aku bisa melihat.. Sangat jelas, hingga entah mengapa menusuk sampai ke tulang-tulangku.. Di sini.. Tempat dimana aku bersembunyi.. Bisa kah kau melihatnya lebih dalam? Terkadang kebahagiaan kalian bersama keluarga, teman atau sahabat sangat menyakitiku.. Kenapa? Karena aku tak memilikinya lagi.. Dulu aku terlalu bangga dengan semua itu.. Keluarga, teman, sahabat dan orang yang ku cintai.. Tapi kini selalu ada yang salah.. Tak ada kata satu.. Janji hanya sekedar perkataan yang akan tertiup angin sewaktu-waktu.. Kebersamaa...

Kotak Pandora

Kotak itu adalah jelmaan dari dirimu. Sisi dari dirimu yang bahkan dirimu sendiri tak ingin mengetahuinya. Ya, jiwa kotor setiap manusia. Mungkin hanya manusia bodoh yang ingin mendekati dan membuka kotak itu, menyelami dan pada akhirnya di kendalikan olehnya.    Mungkin aku adalah salah satu dari manusia bodoh itu. Entah sejak kapan aku telah meninggalkan kehidupan normalku. Kehidupan yang penuh cahaya kebahagiaan, dunia yang ramai akan canda tawa dan orang-orang yang menyayangiku. Masa itu berlalu, dan aku tak tahu sejak kapan duniaku menjadi abu-abu. Aku seperti orang berkacamata yang kehilangan kacamatanya. Buram, suram, tidak jelas, aku hanya dapat mendengar teriakan-teriakan yang memekakkan telinga. Tubuhku mengering, semangatku layu, jalanku tertutup seakan tak ada masa depan bagiku.    Kotak itu mengubahku, mengendalikanku, menjadikan ku orang yang bahkan diriku sendiri tak mengenalinya. Aku ingin berteriak meminta tolong, ...